Tampilkan postingan dengan label Aku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aku. Tampilkan semua postingan
43 hari di desa Reban kecamatan Reban kabupaten Batang, memberikanku banyak sekali pengalaman. Sebagai seseorang yang tidak mengerti bahasa Jawa Kromo aku mencoba membaur sebaik mungkin dengan para warga. Walau hanya bisa menjawab 'nggih' saja tapi tak mengapa, mereka tetap begitu baik dan ramah. Oh iya, 43 hari di Reban merupakan kewajiban yang harus aku jalani sebagai mahasiswa semester 7 dan mengambil KKN Lokasi Unnes Tahap 2. As you know, KKN Lokasi akan mengirimkan kita ke daerah-daerah yang membutuhkan bantuan dalam perihal pemberdayaan masyarakat dan potensi daerahnya. Kebanyakan daerah yang dijadikan sasaran untuk tempat KKN Lokasi berada di luar kota dan kabupaten Semarang. Seperti kabupaten Batang salah satunya, yang memang bisa ditempuh selama 2 jam perjalanan dari Semarang. Batang itu keren, banyak sekali lahan-lahan yang masih berupa hutan atau disini lebih sering disebut dengan alas. Membuatku berpikir jika di dekat ibu kota provinsi di pulau Jawa saja masih ada daerah yang seperti ini bagaimanan dengan daerah lainnya? Entahlah.


Banyak Alas di Batang
Tidak sulit bagiku untuk beradaptasi dengan udara di Reban yang begitu adem. Sungguh, bisa terlepas dari panasnya Semarang dengan KKN di daerah adem seperti itu sangat layak untuk disyukuri. Selama KKN aku dan kelompokku tinggal di rumah Pak Lurah desa Reban. Beliau begitu baik dan perhatian kepada kami. Ibu Lurah yang selalu menyiapkan makanan untuk kami juga tidak menganggap kami sebagai tamu atau orang lain. Kebetulan beliau berdua terbilang masih muda sehingga menganggap kami sebagai adik-adiknya sendiri. Anak Pak Lurah yang paling besar baru kelas 1 SD, namanya Alenata. Ale adalah nama panggilannya, dia sangat menggemaskan dengan perut besar dan pipi chubby-nya. Serta ada si bungsu, namanya Alo. Alo belum genap 2 tahun tapi sudah terlihat jelas jika dia besar nanti dia pasti akan menjadi gadis yang cantik. Tak ketinggalan ada pula Om Agus yang selalu membantu Pak Lurah. Om Agus ini memberikan banyak bantuan selama kami KKN di Reban. Terimakasih ya Pak, Bu, Le, Lo, dan Om.

Begitu banyak tantangan yang didapatkan di KKN Lokasi ini. Yup, bayangkan kamu harus bersama orang yang belum pernah kamu kenal sebelumnya selama 43 hari. Dimulai dari satu kamar, satu rumah, satu tugas, dan satu tujuan. Ini tidak mudah, kawan. Ketika pengumuman kelompok KKN muncul aku tidak mengenal satu pun dari anggota kelompokku. Kami baru bertemu ketika pembekalan KKN. Orang Jawa bilang mendapatkan teman kelompok KKN itu 'bejo-bejonan'. Kalau kamu mendapatkan teman yang kooperatif, mampu memposisikan diri dengan baik, dan bisa saling mengisi kekurangan satu sama lain maka you have to being thankful, bro!


Foto bersama KKN Unnes Ds. Reban 2015 dan Keluarga Pak Lurah
Tapi, mau seperti apapun kondisi KKN kamu tetaplah jalani dengan sepenuh hati. Perjalanan selama KKN sama dengan hidup yang kita jalani. Ada senang, ada sedih, ada tawa, ada air mata. Aku belajar bagaimana bekerja dibawah banyak tekanan, belajar bekerja sama dengan orang yang berbeda cara kerjanya, dan belajar bagaimana sulitnya mengamalkan hadist yang berbunyi "Janganlah engkau marah, niscaya bagimu surga - H.R Thabrani.". Sulit memang tapi ya jalani saja, tak usah mengeluh, nikmati semua manis pahitnya. Aku bersyukur dengan semua yang aku dapatkan selama KKN, banyak hikmah yang bisa diambil dari sana dan tentu cerita yang bisa dikenang nantinya. Jika kamu senang tantangan maka kamu akan menikmati perjalanan ini tapi jika tidak maka kamu cuma akan mengeluh, berharap KKN berakhir secepat mungkin, dan pada akhirnya akan membuat teman di kelompokmu bosan dengan semua keluhanmu. Sungguh, KKN ini sangat menantang dan layak untuk ditaklukan. Tapi santai saja, KKN Lokasi juga memberikan kamu banyak kesempatan untuk piknik kok jadi bisa sekalian explore hehe.

Kelompok KKNku terdiri dari 11 mahasiswa yang berasal dari 4 fakultas yaitu FIP, FIS, FE, dan FT. Untuk posisi 8 orang perempuan ada aku, Yessy, Itsna, Arina, Irma, Desi, Rohmah dan Dayah lalu untuk posisi 3 orang laki-laki ada Albar, Akrom, dan Zaenal. Kami tidak hanya memiliki kewajiban menjalankan program di desa saja tetapi juga di kecamatan. Nah untuk menjalankan program di kecamatan ini kami perlu berkoordinasi dengan kelompok KKN dari desa lainnya di kecamatan Reban yang seluruhnya berjumlah 19 desa. Salah satu dari banyaknya keuntungan KKN Lokasi adalah kamu akan mendapatkan banyak teman baru. Dengan adanya program tingkat kecamatan ini kamu akan berkenalan dengan teman dari desa lainnya. Ini menyenangkan karena kamu bisa sharing apa saja dengan mereka, bahkan jujur saja, aku lebih akrab dengan teman laki-laki dari desa lain dibanding dengan desa sendiri hehe. Kebanyakan anak-anak yang aktif di kegiatan kecamatan adalah mereka yang menjadi perwakilan dari desa dan memiliki tingkat kepedulian serta kontribusi lebih tinggi dibanding dengan yang lainnya. Tak jarang aku mendapatkan keluhan yang bilang "kegiatan di desa saja kami sudah pusing apalagi untuk ikut mengurus kegiatan di kecamatan.". Sebenarnya semua itu tergantung niat, kalau memang kamu berniat ingin ikut serta di kegiatan kecamatan maka kamu akan menemukan bagaimana caranya, seperti membagi tugas-tugas misalnya.


Selfie setelah senam Pagi bersama anak-anak Madin Gumelar 
Kita tidak harus selalu stand by di desa untuk menjalankan setiap program, karena apa gunanya penanggung jawab jika semua anggota harus selalu stand by di desa. Aku bersyukur sekali mempunyai teman sekelompok yang mengerti akan 'pembagian tugas'. Dari semua anggota, mungkin aku salah satunya yang tidak selalu standy by di desa untuk menjalankan berbagai program karena aku mendapatkan tanggung jawab lain di kecamatan. Dan teman kelompokku mengerti itu, khususnya kalian hei para Tante KKN Entut (panggilan kesayangan untuk teman perempuan di kelompokku hehe). Terimakasih sekali karena kalian begitu mengerti posisiku. Kalian mengerti akan skala prioritas yang aku gunakan dalam menjalankan program-program. Kalian memaklumi jika aku selalu kesana-kemari mengurus urusan kecamatan. Kalian selalu memberikan semangat jika aku sudah pusing dengan panggilan telepon dari berbagai pihak di kecamatan (terutama panggilan telepon ketika subuh-subuh hiks). Kalian menjadi reminder jika suaraku yang tidak bermaksud berteriak ini sudah keterlaluan. Kalian perempuan tangguh, sungguh (terbukti dengan bisa pasang plang sendiri misalnya #eh). Terimakasih ya Tante Entut... I love you to the moon and back (p.s: kurangi waktu untuk bikin alisnya ya wkwk).


Ke Pasar Malam Reban bersama para Tante Entut (Taken by: Desi, makanya di foto cuma ber-7)
Tak lupa untuk teman-teman di kecamatan yang sudah memberikan banyak kontribusi baik berupa waktu, tenaga, pikiran bahkan materinya, kalian luar biasa. Kalian adalah orang-orang terpilih yang memang aware akan tanggung jawab kita sebagai mahasiswa. Ini bukan hanya tentang diri kita, tapi ini juga tentang membawa nama baik almamater kita di tingkat kecamatan Reban dan kabupaten Batang. Berhasil mengadakan Penanaman Pohon Tingkat Kecamatan, Turnamen Voli KKN Reban Cup, dan ikut serta di Gebyar Posdaya se-Kabupaten Batang adalah moment-moment keren yang sudah kita torehkan bersama. Senang bisa bekerja sama dengan kalian yang sebetulnya belum aku kenal dengan baik. Tapi memang disanalah justru letak kekerenan kita, karena kita belum saling mengenal terlalu lama tetapi sudah saling percaya untuk dapat menuliskan cerita hebat bersama. Terimakasih ya.


Main sebentar bersama kelompok dari desa Karanganyar dan Pacet
Foto bareng di Pendopo Kabupaten Batang setelah Gebyar Posdaya
Tak lupa berfoto setelah turnamen voli KKN Reban Cup 2015 (biar kekinian wkwk)
Dan untuk Reban... terimakasih untuk kebaikan, kasih sayang, serta kesederhanaan yang telah kamu ajarkan. Senang sekali bisa bersamamu walau hanya dalam waktu yang singkat. Aku akan kembali mengunjungimu, walau entah kapan. Hhmmm mungkin ketika Ale syukuran sunatan hehe.
Sampai jumpa lagi Reban dan teman-teman. Semoga Allah selalu melindungi kita semua. Xoxo.
Aku kembali ke sekolah. Bukan untuk observasi atau melakukan penelitian. Bukan juga untuk mencari dedek gemes atau jajanan murah khas anak OSIS.
Aku kembali ke sekolah sebagai seorang PTP a.k.a Pengembang Teknologi Pembelajaran. Yup, di jurusanku di Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Semarang ada berbagai profesi yang bisa diambil ketika mahasiswa PPL atau Praktik Pengalaman Lapangan. Ada yang menjadi guru Multimedia atau TIK, ada yang menjadi pengembang media di dinas atau perusahaan, ada yang menjadi pengembang kurikulum di lembaga diklat atau dinas pendidikan, dan juga menjadi PTP yang tugasnya menurutku 'lumayan' berat. 
Profesi PTP memang masih sedikit yang mengetahuinya, ya memang antimainstream sih. Tugas utama PTP adalah memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja guru, siswa dan sekolah sebagai suatu organisasi. Terlihat sederhana, kah? Tentu tidak. Karena disana kami para PTP harus berkutat dengan sumber belajar yang ada di sekolah, media pembelajaran, rencana pembelajaran, peningkatan kualitas guru dan sederet program kerja lainnya.

Salah satu program PTP adalah menyelenggarakan diklat bagi guru.
Lebih kurang 3 bulan aku akan berada di sekolah sebagai PTP. Baru 1 bulan yang telah terlewati. Oh iya, aku menjadi PTP di SMP 1 Kudus, SMP yang termasuk sekolah favorit di Kudus. Sekolah yang bagus memang, maklum dulu sudah sempat ikut program RSBI jadi pantas saja jika fasilitas di sekolah ini sangat baik. Sebagai seorang PTP aku akan lebih dekat dengan bapak ibu guru, dibanding dengan para siswa (re: anak-anak). Aku sempat mengira guru-guru disini jutek-jutek karena beliau-beliau mengajar di sekolah bagus, tapi ternyata tidak sama sekali. Alhamdulillah bapak ibu guru sangat baik. Beliau-beliau menerima kami para mahasiswa PPL dengan baik. Memberikan kami kenyamanan dan dengan baik hati mau membimbing kami. Aku pun bersyukur memiliki team PPL yang menyenangkan dan saling pengertian terhadap satu sama lain. 

Lomba Agutusan di sekolah bersama anak-anak.
Dan ini lah salah satu bagian terbaik ketika kamu di sekolah; anak-anak. Anak-anak SMP 1 Kudus pintar dan aktif. Serius deh. Ya wajar kali kan sekolah favorit. Dengan kondisi siswa yang pintar dan aktif ini membuat guru harus semakin kreatif dalam mengajar. Kalau metode belajar yang digunakan oleh guru membosankan maka jangan salahkan anak jika mereka tidak mendengarkan. 
Kesempatan aku untuk dekat dengan anak-anak hanya ketika Pramuka atau ekskul dan jika ada jam kosong atau ada guru yang tidak bisa masuk kelas dan meminta aku untuk menggantikannya. Mereka sangat unik. Menyenangkan bisa berada di sekitar mereka. Apalagi jika bersama kelas 7. Mereka tidak segan-segan untuk bertanya apa saja. Semua pertanyaannya pun lucu-lucu, memperlihatkan kepolosan mereka. Pipi mereka yang chuby disertai dengan seragam Pramuka lengkapnya membuat aku selalu menyebut mereka para Russell. Kamu tau Russell, kan? Itu lho anak Pramuka chuby di film kartun Up hehe.

Anak-anak dengan seragam Pramukanya ketika di pos KIM (Kemampuan Indra Manusia) Persami.
Dengan melihat tingkah laku mereka aku banyak berrefleksi. Refleksi tentang diriku yang ternyata semakin dewasa, semakin banyak mengemban tugas, semakin harus cerdas dalam bersikap. Refleksi tentang mereka, anak-anak generasi milenium, anak-anak yang cenderung sulit dipisahkan dengan gadgetnya, anak-anak yang berbeda-beda sikap dan potensinya.
Sekolah memang selalu menyenangkan. Entah kamu sebagai siswa ataupun sebagai guru. Antara menemukan hal baru dan kenangan lama, nostalgia waktu sekolah dulu. Tak menyangka kembali ke sekolah akan begitu memberikan banyak warna seperti ini. Terimakasih Allah, semoga 3 bulan disini menghasilkan banyak cerita hebat untuk bisa dikenang nantinya.

Bersama anak-anak ketika Persami di sekolah.
Ketika aku pasang PM di BBM kaya judul di atas tuh, eum dikiranya malah aku jalan-jalan ke Solo. Pas dijelasin kalo maksudnya solo traveling tuh jalan-jalan sendiri eh mereka malah ngebully. Katanya kasian lah, dasar jomblo lah. Preketek banget kan -_-
Padahal emang udah lama sebenernya pengen nyobain solo traveling. Penasaran aja gitu. Gimana sih rasanya jalan-jalan sendirian kesana-kemari macem anak ilang. Dan kemarin adalah solo traveling pertama aku. Ya masih sekitar daerah Semarang sih, belum berani langsung jauh gitu. Utamanya mah gara-gara inget waktu libur dan budget yang terbatas hehe.
Minggu pagi sekitar jam 07.30 aku berangkat dari kosan naik motor dan mantap menuju tujuan pertama yang mau didatengin. Langsung aja aku tancap gas ke daerah jalan Bawen-Solo lalu melipir ke kanan jalan setelah 30 menit perjalanan. Yes aku pun sampai di Kampoeng Kopi Banaran yang ternyata lagi rame dipake buat wisata keluarga. Hari minggu namanya juga jadi ya wajar aja. Setelah nunggu beberapa saat akhirnya pesenan aku dateng. Satu cangkir Banaran Cappuccino hangat disusul dengan satu porsi Nasi Rawon. Kebetulan udah lama gak makan Rawon, pas tau disini ada Rawon langsung pesen aja. Dan rawonnya enak banget. Dagingnya empuk, bumbunya kerasa plus ada telor asinnya juga. Recommended deh! Kalo kopinya mah gak usah dibahas ya, udah pasti enak kok tapi setelah ditambah 2 sachet gula karena emang dasarnya aku seneng manis hehe. Terus dikasih biji kopi juga sama oreo *1 biji doang tapi wkwk*. Sayangnya lupa bawa pulang itu biji kopi haha lumayan wangi soalnya.


Setelah 2 jam di Kampoeng Kopi Banaran, aku sempet mikir mau lanjutin jalan kemana. Mau ke Solo apa Jogja ya. Gak terlalu bikin rencana mateng sih. Terus akhirnya niatin mau ke Jogja aja biar sekalian ntar nginep di temen. Padahal gak bawa baju gak bawa cuci muka. Di tas cuma ada dompet, mukena, tissue sama hape doang. Yaudah jalan aja dulu deh yang penting, gitu pikirnya aku.
Ceritanya udah nih jalan aja dengan posisi gak tau jalan buat ke Jogja. Pas pertigaan malah belok ke Rawa Pening yang jalan alternatif itu tapi inget kata temen kalo buat ke Jogja lurus aja. Akhirnya muter balik deh kembali ke jalan yang benar. Terus udah ngelewatin Ambarawa, Secang, dan sampe di Magelang eh tiba-tiba di kiri jalan liat plang Ketep Pass. Langsung kepikiran apa ke Ketep aja gitu ya. Akhirnya iya deh beneran belok kiri menuju Ketep haha. Padahal gak ada niatan mau kesini, cuma inget doang 'Oh iya kan belum pernah ke Ketep Pass', gitu. Emang prinsipnya tuh kalo di bahasa sunda mah 'sakasampeurna', sekelewatnya aja.
Jam 12.00 nyampe di Ketep Pass setelah sebelumnya ngelewatin jalan yang lagi banyak dibenerin plus bergelombang. Di Ketep Pass juga rame, banyak bis malah. Pas beli tiket si mbak yang jaga keukeuh bilang tiket buat 2 orang gitu, padahal udah dibilangin buat 1 orang aja. Doi kayanya gak percaya kalo aku sendirian wkwk. Setelah dapet tiket langsung parkirin motor dan ngerogoh tas. Apalagi coba kalo bukan buat ambil hape. Langsung foto-foto sana-sini. Walaupun rame tapi spotnya tetep bagus kok. Gunung Merapi pun keliatan banget dari sini. Puncaknya itu lho, gagah banget.




Gak lupa aku juga nonton film tentang Merapi di Ketep Volcano Theatre. Film yang berdurasi 22 menit ini menceritakan tentang kehidupan masyarakat di sekitar Merapi, erupsi Merapi di tahun 2010, juga kondisi masyarakat yang harus kehilangan harta benda bahkan sanak saudara. Merinding lah pas nontonnya. Ngebayangin kalo ada di posisi para warga yang terkena bencana seperti itu. Tabah dan kuat sekali mereka.
Sebelum ngelanjutin jalan-jalan di area Ketep Pass aku pergi ke Mushola dulu buat sholat dzuhur. Ternyata air di Musholanya terbatas banget jadi harus sabar ngantri. Sholat pun selesai dan lanjutin jalan-jalan. Setelah puas jalan-jalan kesana-kemari di Ketep Pass aku pun mutusin buat lanjut pulang sambil masih bingung. Iya bingung. Bingung balik Semarang atau lanjut ke Jogja. Ngeliat jam di tangan udah nunjukin angka 14.30 jadinya mikir-mikir lagi deh. 
Setelah mikir panjang sambil jalan aku putusin buat belok kanan pas nyampe di pertigaan Mungkid. Yap pada akhirnya aku putusin buat pulang Semarang dengan pertimbangan gak bawa barang-barang buat persiapan nginep di Jogja dan keinget beberapa tugas yang masih terbengkalai. Ke Jogjanya next time aja ya. Perjalanan pun berlanjut. Gak jauh dari pertigaan aku berenti dulu di minimarket, mau beli minum, haus ternyata dari jam 10.00 nyampe jam 15.00 gak minum-minum. Minumnya udah eh laper pun datang menghampiri. Karena lagi di Magelang jadinya keinget Kupat Tahu khas Magelang. Meluncur lah aku ke daerah Alun-Alun Magelang sambil nanti sekalian sholat ashar di Mesjid Agungnya.
Jalanannya lumayan macet, maklum besok senin jadi mau pada balik ke perantauan masing-masing sepertinya. Sekitar jam 15.45 sampai di Mesjid Agung setelah tadinya muter-muterin jalanan dulu gara-gara ngeliat plang Taman Kyai Langgeng hehe. Abis penasaran sih lokasinya dimana itu taman. Selesai sholat ashar langsung cus ke Kupat Tahu Pak Slamet, hasil rekomendasi dari temen yang asli Magelang. Lokasinya juga deket kok masih sekitaran alun-alun, jadi tinggal jalan aja gak usah pake motor. Yang beli banyak jadinya ngantri deh. Kupat tahunya enak, tapi kupatnya dikit tahunya kebanyakan. Gak seimbang gitu wkwk.
Dan setelah kenyang makan kupat tahu, jam 16.30 aku pun lanjutin jalan lagi buat pulang ke Semarang dengan kondisi hati yang gembira haha. Iya dong gembira, kan udah jalan-jalan seharian kesana-kemari walau kaya anak ilang biarin yang penting happy. Alhamdulillah perjalanan lancar tanpa hambatan apapun. Sampai di kosan dengan selamat sekitar jam 18.20. 
Seneng banget rasanya bisa nyobain jalan sendirian gitu. This is the real Me-Time! Aku bener-bener sendiri. Pergi ke tempat yang lumayan jauh dan tanpa ada seorang pun yang aku kenal. Menikmati banget deh waktu liburannya. Aku bebas mau kemana mau ngapain mau nyampe jam berapa. Walau banyak yang ngeliatin karena selfie-selfie sendirian haha. Tantangannya kerasa banget. Ngeberani-beraniin diri buat jalan jauh sendiri naik motor kaya gitu. Butuh waktu memang buat yakinin diri kalo aku bisa. Dan aku pun berhasil ngebuktiin ke diri sendiri kalo aku memang bisa.


Sebuah perjalanan itu menurut aku bukan tentang menaklukan suatu tempat, tapi tentang menaklukan diri sendiri. Menaklukan ketakutan sendiri. Bisa apa enggak. Mau apa enggak. Berani apa enggak. Yakin deh setiap orang pasti bisa ngelakuin solo traveling. Gak ada salahnya buat coba apalagi kalo memang ada budget dan waktunya. Dan buat yang masih mikir solo traveling itu 'menyedihkan karena sendirian', satu pertanyaan aja buat kamu: berani nyoba gak? 
"Relawan tak dibayar bukan berarti tak bernilai, tapi karena tak ternilai." - Anies Baswedan

Aku setuju dengan ungkapan dari bapak Anies tersebut. Aku merasakannya sekarang. Sudah hampir satu bulan aku menjadi relawan yang mendapingi anak-anak belajar di satu kelurahan di daerah Semarang kota. Pertemuan rutin diadakan setiap hari Selasa dengan durasi waktu lebih kurang 2 jam di kantor kelurahan. Pada pertemuan pertama dengan anak-anak aku kira mereka jutek dan tidak mudah didekati. Tapi ternyata dugaanku salah besar. Ketika aku baru datang saja mereka sudah memberikan senyum termanisnya. Bahkan ada beberapa anak yang langsung bisa mengingat namaku. Mereka sangat terbuka padaku. Mereka mau menceritakan bagaimana sekolah mereka, memintaku untuk membantu mengerjakan PR, dan juga memintaku membuatkan soal latihan untuk mereka kerjakan. Oh sungguh aku bahagia sekali pada pertemuan pertama itu.


Seorang teman sedang mendampingi anak-anak membaca Ensiklopedia.

Aku akui, ini memang pengalaman pertamaku terjun langsung mendampingi anak-anak belajar. Selama ini aku tidak cukup percaya diri dalam mendampingi anak belajar. Aku takut mereka tidak menyukai cara penyampaianku dan akhirnya tidak memahami apa yang aku jelaskan. Apalagi dalam belajar matematika. Haduh... Ingin pergi saja rasanya. Aku memang kurang menyukai matematika jadi tidak aneh jika aku lemah dalam mata pelajaran ini. Padahal aku anak IPA waktu di SMA dulu *haha sudah lupakan -_-*.


Suasana di kantor kelurahan tempat belajar anak-anak.

Anak-anak itu merubah semua dugaanku, bahkan dugaan tentang diriku sendiri. Ketika kali pertama mendampingi seorang anak belajar *aku lupa siapa namanya* dia langsung memintaku menjawab soal matematika UN tahun kemarin. Dalam hati aku berkata, "Ya Allah aku tuh paling takut dikasih matematika eh pertama dampingin malah dapet ini plus soal UN pula.". Dan akhirnya mau tak mau aku pun mencoba mengerjakan soal tersebut. Aku mulai dengan membacanya, lalu aku mencoba mengingat apa rumusnya, sampai di akhir aku pun berhasil menjawab dan menjelaskan dengan baik pada anak itu. Aku benar-benar meyakinkan dia apakah dia sudah paham atau belum dengan penjelasanku. Terlihat lebay mungkin bagi sebagian orang, tapi aku ingin benar-benar dia memahaminya. Karena sekecil apapun ilmu yang kita sampaikan akan ada pertanggungjawabannya kelak. 

Dia pun menjawab, "iya mbak paham.". Jawaban itu membuat aku senang, senang sekali. Rasanya bukan hanya sekedar karena sudah membantu seorang anak memahami soal matematika, tapi juga rasa karena bisa menaklukan ketakutanku sendiri. Alhamdulillah. Aku bisa ternyata. Aku bisa.

3 pertemuan berlalu dan di setiap pertemuannya aku selalu mengajarkan matematika. Jadi tantangan tersendiri memang. Dan aku pun menyukainya. Anak-anak ini membantuku melawan ketakutanku. Anak-anak ini memberikanku kekuatan baru setiap kami habis bertemu. Anak-anak... Memang selalu menyenangkan. Betul kata Pak Anies, relawan tak ternilai karena kebahagian dari menjadi relawan memang tak ternilai.
Apa yang kamu harapkan ketika umurmu bertambah ?
Sebuah ucapan selamat ? Kado ? Atau kejutan ?
Hari ini, Rabu 08 April 2014 aku tepat berusia 21 tahun. Usia yang sudah tidak dikatakan lagi remaja. Usia dimana arah hidupku sudah mulai terlihat hendak kemana. 
Di bertambahnya usia ini aku tak berharap sesuatu yang macam-macam. Aku tak terlalu berharap kejutan dari teman-temanku yang memberikan sebuah kue dengan lilin di atasnya atau foto yang diedit dengan begitu noraknya dan dijadikan DP BBM. Tidak. Aku sudah tak mengharapkan itu semua.
Di usiaku yang baru ini aku hanya berharap pada diriku sendiri. Aku sangat berharap seorang Nia ini bisa konsisten menjaga semangatnya dalam berbagai hal. Semangat dalam ibadah, semangat dalam mencari ilmu, dan juga semangat dalam menebarkan kebaikan. 
Penyakit yang sudah lama dideritaku ya ketidakkonsistenan ini. Entahlah. Sulit sekali untuk terus konsisten. Dan rasanya itu memang manusiawi. Bukan hanya aku saja yang menderita penyakit ini. Dibutuhkan suatu motivasi agar aku bisa kembali semangat dalam menjalani setiap aktifitas. Dan motivasi yang paling ampuh selalu aku dapatkan dari Mamah.


Aku tak tau jika Mamah juga mengucapkan selamat ulang tahun di akun facebookku. Aku menangis terharu membacanya. Oh Allah, betapa bahagianya aku memiliki Mamah seperti beliau. 
Harapanku di ulang tahun kali ini sederhana. Aku hanya berharap pada diriku sendiri agar aku menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi. Lebih baik dalam segalanya. Dalam ibadah, mencari ilmu, membagi waktu, disiplin, dan lain sebagainya. Amin.
Terakhir, aku ucapkan kepada diriku sendiri, selamat ulang tahun Nia.
Selamat datang di usia 21.


Indonesia memiliki potensi wisata yang begitu besar. Saking besarnya bidang ini pun mampu menyumbangkan devisa negara hingga US$ 10 Miliar.[1] Keindahan negeri ini terhampar dari Sabang sampai Merauke. Terdapatnya beraneka ragam suku dengan kebudayaan yang berbeda-beda di dalamnya juga membuat Indonesia semakin istimewa dalam keharmonisannya. Banyak turis asing yang jatuh cinta dengan keindahan Indonesia, bahkan hingga menetap di negeri kepulauan ini.Para turis mengatakan bahwa Indonesia itu menyenangkan karena biaya hidupnya yang murah dan juga karena orang-orangnya yang ramah.
Jika para turis yang berasal dari luar negeri sudah menikmati indahnya Indonesia, maka sebagai penduduk asli Indonesia kita pun seharusnya telah seperti itu. Karena jika bukan kita yang menikmati dan lalu mencintai potensi wisata negeri ini maka siapa lagi. Kebanyakan para turis hanya sekedar menikmati saja tanpa ikut menjaga sebab mereka berpikir itu bukan milik mereka dan memang kita lah pemilik sesungguhnya dari negeri khatulistiwa ini. Sehingga sudah merupakan kewajiban kita untuk senantiasa menjaga, mencintai, dan melestarikan seluruh potensi yang dimiliki Indonesia.
Namun menurut travel blogger, Trinity yang baru saja pulang long trip selama satu tahun, dalam suatu talkshow menyatakan bahwa minat orang Indonesia dalam bepergian atau traveling masih sangat rendah. Ketika dia berkunjung ke beberapa negara di Benua Amerika banyak penduduk disana yang bilang bahwa dia adalah orang Indonesia pertama yang mereka temui. Dalam pengamatan penulis pun memang kegiatan traveling masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Jangankan untuk traveling ke luar negeri, sekedar mengunjungi seluruh wisata yang ada dalam provinsinya saja sangat jarang.
Banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut, diantaranya ekonomi dan sosial budaya. Dalam hal ekonomi jelas terlihat bahwa untuk traveling harus mengeluarkan dana yang lumayan tidak sedikit. Walau begitu jika memang ada minat yang besar pasti semua kendala akan dapat diatasi. Misalnya dengan menabung melalui tabungan khusus setiap bulannya, mencari pekerjaan sampingan, dan menjadi travel blogger. Selain ekonomi ada pula keadaan sosial budaya di sebagian daerah yang kurang mendukung. Seperti adanya stigma dari orang-orang dengan pemikiran konservatif yang menyebutkan lebih baik di kampung halaman saja, di rumah saja. Disisi lain di beberapa daerah, traveling dianggap sebagai kegiatan yang menghambur-hamburkan uang. Traveling dianggap tak ada manfaatnya selain hanya sekedar bermain dan refreshing saja.
Menurut survei, 75 persen orang di atas 35 tahun menyesal tidak sering liburan sewaktu mereka muda. Ini adalah survei yang diadakan oleh perusahaan travel asal Inggris bernama Contiki Holidays. Dalam survei yang ditengok dari Daily Mail, Rabu (14/8/2013), disebutkan 3/4 responden berumur 35 tahun ke atas menyesal tidak terlalu sering liburan waktu muda. Survei tersebut menunjukkan bahwa sesungguhnya traveling adalah hal menyenangkan yang diinginkan oleh kebanyakan orang. Ketika menginjak umur 35 tahun ke atas kebanyakan orang sudah sibuk dengan rutinitas pekerjaan dan tanggung jawabnya dalam keluarga. Sehingga semakin berkurang lah waktu untuk dapat traveling sepuas dan sebebas mungkin.
Sesungguhnya manfaat dari traveling tidak hanya sekedar bermain dan refreshing saja. Dengan traveling pemikiran kita dapat lebih luas lagi karena kita melihat, mendengar, berbicara, dan berjalan lebih banyak. Traveling membuat kita menjadi pribadi yang dapat hidup dalam perbedaan. Bergaul dengan lingkungan yang heterogen merupakan suatu hal yang sudah biasa dalam traveling. Mengenal lebih banyak teman, kebudayaan, dan lingkungan menjadikan seorang traveler lebih toleran dan empati terhadap lingkungannya. Selain itu orang yang hobi traveling sudah jelas akan memiliki fisik yang lebih bugar sebab lebih banyak melakukan aktifitas di luar ruangan sehingga bergerak lebih banyak.
Satu hal yang tak kalah penting dalam traveling adalah pengalaman. Pengalaman merupakan sesuatu yang sangat berharga karena pengalaman mampu mengajarkan kita banyak hal. Dengan pengalaman kita dapat menjadi pribadi yang lebih dewasa dan lebih matang dari sebelumnya. Dengan pengalaman pula lah kita memiliki banyak tabungan cerita yang bisa dibagikan dengan keluarga, teman, juga satu yang tak bisa dilupakan, dengan anak-cucu kita kelak. Traveling sungguh sangatlah menyenangkan. Dengan traveling kita bisa berpetualang untuk menantang kemampuan diri sendiri. Maka ketika ada waktu luang sempatkanlah untuk traveling sebanyak mungkin.
Waktu yang paling pas untuk traveling adalah ketika menjadi mahasiswa. Mahasiswa merupakan golongan yang paling bebas dari beberapa golongan lain seperti anak sekolah dan pekerja. Mahasiswa memiliki waktu yang lebih banyak dari yang lainnya, seperti libur 2 hari dalam sepekan dan libur kuliah yang bisa memakan waktu 1 sampai 3 bulan. Status mahasiswa yang kebanyakan belum menikah dan jauh dari orangtua juga membuat mahasiswa lebih bebas untuk melakukan apapun. Selagi kebebasan itu digunakan untuk suatu hal yang bermanfaat rasanya sah-sah saja. Mahasiswa yang senang traveling pun tentunya akan lebih mandiri karena sudah mampu untuk menentukan destinasi wisata, waktu perjalanan, dan budget sendiri.
Hidup di dunia ini hanya sekali. Sayang jika harus dilewati dengan hal yang itu-itu saja. Masih banyak tempat indah di Indonesia, terlebih di dunia, yang bisa dikunjungi dan masih banyak lagi kebudayaan nan unik yang bisa dieksplorasi. Dinginnya Ranu Kumbolo, birunya pantai Pandawa, ramainya pos ketan di Alun-Alun Batu, dan jingganya senja di Bukit Moko menunggu Anda untuk datang menghampirinya.
Don’t tell me how educated you are, tell me how much you travelled. - Mohamed
Ku coba merangkai kata cinta
Walaupun ku bukanlah pujangga
Yang bisa tuliskan kata-kata yang indah
Nyatanya tak ada nyali untuk ungkapkan

I wanna love you like the hurricane
I wanna love you like the mountain rain
So right, so pure
So strong and crazy for you

Andai matamu melihat aku
Terungkap semua isi hatiku
Alam sadarku, alam mimpiku
Semua milikmu andai kau tahu
Andai kau tahu rahasia cintaku

Berdoa dan beranikan diri
Sebelum semua ini terlambat terjadi

I wanna love you like the hurricane
I wanna love you like the mountain rain
So right, so pure
So strong and crazy for you

Andai matamu melihat aku
Terungkap semua isi hatiku
Alam sadarku, alam mimpiku
Semua milikmu andai kau tahu
Andai kau tahu rahasia cintaku

Andai matamu melihat aku
Terungkap semua isi hatiku
Alam sadarku, alam mimpiku
Semua milikmu andai kau tahu
Andai kau tahu rahasia cintaku

Alam sadarku
Alam mimpiku
Semua milikmu andai kau tahu
Andai kau tahu rahasiaku
Rahasiaku ..



4 tahun yang lalu aku mulai mengikuti ekstrakulikuler Taekwondo yang ketika SMP dulu aku tak sempat mengikutinya karena sudah terlalu banyak ekstrakulikuler yang aku ikuti. Sebenarnya sempat juga ikut karate atau BKC (Bandung Karate Club) tapi gara-gara baru ikut 1 bulan dan sudah keburu sakit ya terpaksa mamah menyuruh aku keluar. Baju latihannya saja aku jual pada Revina Fatimah a.k.a Ipeh xD. Sampai akhirnya ketika aku SMA, aku langsung memutuskan ikut Taekwondo dan menjadikan ekstrakulikuler ini sebagai ekskul utamaku disusul IMADA dan MPK.
Pertama kali masuk Taekwondo aku langsung bertemu dengan Sabeum Nim*artinya pelatih/instruktur kepala dan lebih sering disingkat Sbn*Ahmad, Sbn. Egi, dan Sbn. Jajang. Mereka sangat baik dan welcome sekali kepada kami para anak didiknya. Sbn. Ahmad yang jail, Sbn. Egi yang kalem, dan Sbn. Jajang yang tegas. Ah, aku sangat merindukan mereka. Mereka sudah menganggap kami seperti adiknya sendiri, karena kalau menganggap anak bisa bahaya*FYI mereka masih muda, umur 22-25an*. Terkadang kami sering mengecewekan mereka dengan datang latihan terlambat dan tidak disiplin. Tapi mereka tetap melatih kami bagaimanapun keadaan kami, walau mereka tetap saja memberikan hukuman terlebih dahulu.
Oh ya, selain Sabeum Nim ada juga Sabeum dan Seonbae. Kalau Sabeum *artinya pelatih/instruktur dan lebih sering disingkat Sbm* ada Sbm. Mardi, Sbm. Epul, Sbm. Ipa, dan Sbm. Kika. Mereka menyebut kelompoknya dengan sebutan Fantastic Four *gayanya*, karena ada 3 laki-laki dan 1 perempuan xD. Lalu ada Seonbae *artinya senior dan lebih sering disingkat Sb* Seia, Sb. Inez, Sb. Siti, Sb. Ismi dan Sb. Pia. Tapi sayang senior kami ini yang aktif hanya Sb. Seia saja dan sekarang Sb. Seia juga telah menyusul Sbm kami yang lain, yaitu menjadi seorang Sbm karena dia telah lulus ujian DAN sabuk hitam sekitar tahun 2012 yang lalu.

Aku bahagia dapat mengenal mereka. Mereka orang yang baik dan juga menyenangkan. Walau sekarang sangat sulit untuk dapat berkumpul lagi dengan mereka, tapi setidaknya komunikasi dengan mereka tidak terputus. Apalagi dengan Sbm. Seia, Sbm. Mardi, Sbm. Epul, dan Sbm. Jajang. Sampai ketika aku akan berangkat kuliah ke Semarang saja mereka masih sempat memberikan aku wejangan dan berpesan agar dapat menjaga diri disana.
Aku tak pernah bosan berkumpul dengan mereka. Berkumpul membicarakan Taekwondo, organisasi, kehidupan, perkuliahan, sampai membicarakan percintaan juga sering. Mereka sudah aku anggap seperti kakakku sendiri. Sosok yang perhatian seperti mereka sampai saat ini tidak kutemukan lagi pada diri orang lain. Aku merindukan mereka. Rindu akan candaan dan juga nasihat mereka.
Tepat setahun yang lalu ketika kami buka bersama, itulah terakhir kalinya kami berkumpul. Dan di bulan Ramadhan tahun ini pun kami akan berkumpul kembali. Aku sangat menantikan moment ini terulang setiap tahunnya. Memang, karena kesibukan dan jarak kami yang berbeda-beda menjadikan kami susah untuk berkumpul bersama. Hanya ketika moment bulan Ramadhan dan Lebaran saja kami dapat berkumpul dan berbagi cerita satu sama lain.
Semoga silaturahmi diantara kami takkan pernah putus sampai nanti, sampai kami sudah memiliki anak dan cucu kelak *alay dikit*. Amin. :)

Bersama Sbn. Egi (kiri) dan Sbn. Ahmad (kanan)

Sbm. Seia dan Sbm. Mardi



Aku sedang belajar untuk berhenti menjadi sesorang yang sedikit-sedikit mengeluh.
Aku sedang belajar untuk berhenti menjadi sesorang yang menjadikan media sosial sebagai tempat mencurahkan segala hal yang mengarah pada kegalauan.
Aku sedang belajar untuk berhenti menjadi seseorang yang banyak membicarakan hal-hal yang tidak penting.
Aku sedang belajar untuk berhenti menilai seseorang hanya berdasarkan dengan melihat penampilan luarnya saja.
Aku sedang belajar untuk berhenti bersikap jelek terhadap orang yang juga bersikap jelek kepadaku.

Aku sedang dan masih belajar untuk itu semua.
Semua hal itu membuat aku terlihat sangat ababil a.k.a ABG labil.
Berhentilah menjadi ababil, Nia !!!
Usiamu sudah tidak mendukung untuk kamu melakukan semua hal yang tidak pantas dilakukan itu.
Semuanya butuh proses, maka berproseslah menjadi seorang Nia yang lebih baik lagi setiap harinya.
Bismillah, Allah selalu menyertai. 

Bulan Juni akhirnya datang juga.
Kalo bulan Mei kemarin sih full banget sama berbagai kegiatan ke luar kota. Iya, kegiatan yang cukup menguras banyak uang dan tenaga tapi sangat menyenangkan dan mengesankan. Mei begitu istimewa deh pokoknya.
Lalu, bagaimana dengan Juni ?
Hmm, kalo di Juni ini sepertinya akan ada sesuatu yang baru.
Sesuatu yang akan merubah rutinitas kegiatan sehari-hari.
Dan aku harus siap. Harus.
Karena ini pilihanku sendiri.
Semoga pilihan ini membawa keberkahan dan diridhoi Allah SWT.
Amin.

Twitter sama facebook tempat biasa berkomunikasi & mencurahkan keluh kesah rasanya sekarang menjadi terlalu bising, terlalu ramai, terlalu banyak yang hilir mudik.
Entah kenapa bawaannya pengen sendiri, pengen menghilang dari kerumunan banyak orang.
Bhakti bilang itu tanda transisi pemikiran. Apa maksudnya ?
Mungkin maksud bocah yang satu itu transisi pemikiran aku bakalan jadi lebih dewasa.
Iya, mungkin. 

Tiba-tiba rasa itu datang lagi. Rasa aneh, senang, sedih, dan entahlah apa itu.
Aku kira waktu 2 tahun itu akan cukup membuat 'rasa' antara aku dan kamu hilang.
Ya setidaknya menjadi suatu 'rasa' yang biasa saja.
Tapi ternyata tidak.
Rasa itu, bagaimanapun juga, masih ada ternyata.
Konyol sekali rasanya melihat aku dan kamu, untuk saat ini, sudah tidak bisa lagi menjadi kita.
Sedangkan aku dan kamu masih sama-sama saling memiliki 'rasa' itu.
Tapi hanya karena kata MALU dan GENGSI aku dan kamu berhasil menutup semua 'rasa' itu.
Padahal orang-orang di sekeliling aku dan kamu tau akan hal itu.

Hei, kamu, dengarkan aku.
Aku dan kamu sudah tidak bersama lagi sekarang dan entah akan bersama lagi atau tidak.
Tapi hanya satu hal yang aku ingin kamu tau.
Aku selalu mengingat semua perkataan kamu ketika kita berpisah 2 tahun yang lalu.
Aku mengingatnya.
Dan aku berhasil membuktikan kalau apa yang kamu katakan itu salah.
Malah ternyata kamu yang lebih dulu menemukan aku yang lain.
Selamat.

Saat ini aku hanya ingin kamu tau satu hal.
Biarkan aku dan kamu mengejar apa yang ingin aku dan kamu capai.
Biarkan aku dan kamu melakukan apa yang memang ingin aku dan kamu lakukan.
Dan biarkan aku dan kamu meraih semua cita-cita yang ingin aku dan kamu raih.
Dunia aku dan kamu berbeda.
Jadi, biarkan aku dan kamu berjalan sesuai dengan jalannya masing-masing.
Karena, percayalah, ketika waktunya tiba.
Ketika aku dan kamu memang ditakdirkan Allah akan bersama.
Maka aku dan kamu akan menjadi kita lagi suatu hari nanti.
Biarkan waktu yang menjawab semua ini.
Percayalah, ketika waktunya tiba semuanya akan indah.
Percayalah, Allah akan memberikan yang terbaik untuk aku dan kamu.

Halo dunia blogger, aku udah tau kamu dari sejak SMP tapi baru kenalan sekarang haha *kamseupay*. Terima aku dengan baik ya. Nama aku Nia Faridawati Rustandi, lahir dari rahim Mamah Dra. Ida Siti Khodijah di Tasikmalaya 08 April 1994 dan disambut dengan lantunan adzan dari Ayah Drs. Dedi Rustandi yang sekarang sudah tenang di surga Allah SWT nan indah disana. Nama panggilan aku macem-macem, keluarga aku manggil aku Teteh *panggilan kakak untuk perempuan dalam Bahasa Sunda*, temen-temen aku ada yang manggil Niok, Nyok-nyok, atau Nyok *nyambung gak sih ?*. Tapi tetep aja panggilan umumnya Nia mehehe. Aku anak pertama dari 3 bersaudara dan 2 adik aku laki-laki semua. Adik laki-laki pertama aku namanya Indra Maulana Rustandi, suka dipanggil Aa *panggilan kakak untuk laki-laki dalam Bahasa Sunda* tapi sering juga dipanggil Dimas *gak nyambung banget *ada ceritanya**. Nah yang bungsu namanya Triadi Zulfikar Rustandi, panggilannya Dede *panggilan untuk seseorang yang lebih muda dari kita* tapi kadang dipanggil Adi juga *lumayan nyambung*. Aku berdarah Sunda tulen, lahir di Tasikmalaya dan besar pun di Tasikmalaya. Aku masuk TK pas umur 4 tahun di TK Cijangkar, lanjut masuk SD tahun 2000 di SDN Sukamantri, udah lulus SD langsung masuk SMPN 1 Ciawi di tahun 2006. Dan masuk SMA pas tahun 2009 di SMAN Ciawi dengan Jurusan IPA. Sampe sekarang kuliah *alhamdulillah* keterima di Universitas Negeri Semarang angkatan tahun 2012 Jurusan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan.