Aku kembali ke sekolah sebagai seorang PTP a.k.a Pengembang Teknologi Pembelajaran. Yup, di jurusanku di Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Semarang ada berbagai profesi yang bisa diambil ketika mahasiswa PPL atau Praktik Pengalaman Lapangan. Ada yang menjadi guru Multimedia atau TIK, ada yang menjadi pengembang media di dinas atau perusahaan, ada yang menjadi pengembang kurikulum di lembaga diklat atau dinas pendidikan, dan juga menjadi PTP yang tugasnya menurutku 'lumayan' berat.
Profesi PTP memang masih sedikit yang mengetahuinya, ya memang antimainstream sih. Tugas utama PTP adalah memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja guru, siswa dan sekolah sebagai suatu organisasi. Terlihat sederhana, kah? Tentu tidak. Karena disana kami para PTP harus berkutat dengan sumber belajar yang ada di sekolah, media pembelajaran, rencana pembelajaran, peningkatan kualitas guru dan sederet program kerja lainnya.
![]() |
| Salah satu program PTP adalah menyelenggarakan diklat bagi guru. |
Lebih kurang 3 bulan aku
akan berada di sekolah sebagai PTP. Baru 1 bulan yang telah terlewati. Oh
iya, aku menjadi PTP di SMP 1 Kudus, SMP yang termasuk sekolah favorit di
Kudus. Sekolah yang bagus memang, maklum dulu sudah sempat ikut program RSBI
jadi pantas saja jika fasilitas di sekolah ini sangat baik. Sebagai seorang PTP
aku akan lebih dekat dengan bapak ibu guru, dibanding dengan para siswa (re:
anak-anak). Aku sempat mengira guru-guru disini jutek-jutek karena beliau-beliau
mengajar di sekolah bagus, tapi ternyata tidak sama sekali. Alhamdulillah bapak
ibu guru sangat baik. Beliau-beliau menerima kami para mahasiswa PPL dengan
baik. Memberikan kami kenyamanan dan dengan baik hati mau membimbing kami. Aku
pun bersyukur memiliki team PPL yang menyenangkan dan saling pengertian
terhadap satu sama lain.
![]() |
| Lomba Agutusan di sekolah bersama anak-anak. |
Dan ini lah salah satu bagian terbaik ketika kamu di sekolah; anak-anak. Anak-anak SMP 1 Kudus pintar dan aktif. Serius deh. Ya wajar kali kan sekolah favorit. Dengan kondisi siswa yang pintar dan aktif ini membuat guru harus semakin kreatif dalam mengajar. Kalau metode belajar yang digunakan oleh guru membosankan maka jangan salahkan anak jika mereka tidak mendengarkan.
Kesempatan aku untuk dekat dengan anak-anak hanya ketika Pramuka atau ekskul dan jika ada jam kosong atau ada guru yang tidak bisa masuk kelas dan meminta aku untuk menggantikannya. Mereka sangat unik. Menyenangkan bisa berada di sekitar mereka. Apalagi jika bersama kelas 7. Mereka tidak segan-segan untuk bertanya apa saja. Semua pertanyaannya pun lucu-lucu, memperlihatkan kepolosan mereka. Pipi mereka yang chuby disertai dengan seragam Pramuka lengkapnya membuat aku selalu menyebut mereka para Russell. Kamu tau Russell, kan? Itu lho anak Pramuka chuby di film kartun Up hehe.
![]() |
| Anak-anak dengan seragam Pramukanya ketika di pos KIM (Kemampuan Indra Manusia) Persami. |
Dengan melihat tingkah laku mereka aku banyak berrefleksi. Refleksi tentang diriku yang ternyata semakin dewasa, semakin banyak mengemban tugas, semakin harus cerdas dalam bersikap. Refleksi tentang mereka, anak-anak generasi milenium, anak-anak yang cenderung sulit dipisahkan dengan gadgetnya, anak-anak yang berbeda-beda sikap dan potensinya.
Sekolah memang selalu menyenangkan. Entah kamu sebagai siswa ataupun sebagai guru. Antara menemukan hal baru dan kenangan lama, nostalgia waktu sekolah dulu. Tak menyangka kembali ke sekolah akan begitu memberikan banyak warna seperti ini. Terimakasih Allah, semoga 3 bulan disini menghasilkan banyak cerita hebat untuk bisa dikenang nantinya.
![]() |
| Bersama anak-anak ketika Persami di sekolah. |






0 komentar:
Posting Komentar