"Relawan tak dibayar bukan berarti tak bernilai, tapi karena tak ternilai." - Anies Baswedan

Aku setuju dengan ungkapan dari bapak Anies tersebut. Aku merasakannya sekarang. Sudah hampir satu bulan aku menjadi relawan yang mendapingi anak-anak belajar di satu kelurahan di daerah Semarang kota. Pertemuan rutin diadakan setiap hari Selasa dengan durasi waktu lebih kurang 2 jam di kantor kelurahan. Pada pertemuan pertama dengan anak-anak aku kira mereka jutek dan tidak mudah didekati. Tapi ternyata dugaanku salah besar. Ketika aku baru datang saja mereka sudah memberikan senyum termanisnya. Bahkan ada beberapa anak yang langsung bisa mengingat namaku. Mereka sangat terbuka padaku. Mereka mau menceritakan bagaimana sekolah mereka, memintaku untuk membantu mengerjakan PR, dan juga memintaku membuatkan soal latihan untuk mereka kerjakan. Oh sungguh aku bahagia sekali pada pertemuan pertama itu.


Seorang teman sedang mendampingi anak-anak membaca Ensiklopedia.

Aku akui, ini memang pengalaman pertamaku terjun langsung mendampingi anak-anak belajar. Selama ini aku tidak cukup percaya diri dalam mendampingi anak belajar. Aku takut mereka tidak menyukai cara penyampaianku dan akhirnya tidak memahami apa yang aku jelaskan. Apalagi dalam belajar matematika. Haduh... Ingin pergi saja rasanya. Aku memang kurang menyukai matematika jadi tidak aneh jika aku lemah dalam mata pelajaran ini. Padahal aku anak IPA waktu di SMA dulu *haha sudah lupakan -_-*.


Suasana di kantor kelurahan tempat belajar anak-anak.

Anak-anak itu merubah semua dugaanku, bahkan dugaan tentang diriku sendiri. Ketika kali pertama mendampingi seorang anak belajar *aku lupa siapa namanya* dia langsung memintaku menjawab soal matematika UN tahun kemarin. Dalam hati aku berkata, "Ya Allah aku tuh paling takut dikasih matematika eh pertama dampingin malah dapet ini plus soal UN pula.". Dan akhirnya mau tak mau aku pun mencoba mengerjakan soal tersebut. Aku mulai dengan membacanya, lalu aku mencoba mengingat apa rumusnya, sampai di akhir aku pun berhasil menjawab dan menjelaskan dengan baik pada anak itu. Aku benar-benar meyakinkan dia apakah dia sudah paham atau belum dengan penjelasanku. Terlihat lebay mungkin bagi sebagian orang, tapi aku ingin benar-benar dia memahaminya. Karena sekecil apapun ilmu yang kita sampaikan akan ada pertanggungjawabannya kelak. 

Dia pun menjawab, "iya mbak paham.". Jawaban itu membuat aku senang, senang sekali. Rasanya bukan hanya sekedar karena sudah membantu seorang anak memahami soal matematika, tapi juga rasa karena bisa menaklukan ketakutanku sendiri. Alhamdulillah. Aku bisa ternyata. Aku bisa.

3 pertemuan berlalu dan di setiap pertemuannya aku selalu mengajarkan matematika. Jadi tantangan tersendiri memang. Dan aku pun menyukainya. Anak-anak ini membantuku melawan ketakutanku. Anak-anak ini memberikanku kekuatan baru setiap kami habis bertemu. Anak-anak... Memang selalu menyenangkan. Betul kata Pak Anies, relawan tak ternilai karena kebahagian dari menjadi relawan memang tak ternilai.
Apa yang kamu harapkan ketika umurmu bertambah ?
Sebuah ucapan selamat ? Kado ? Atau kejutan ?
Hari ini, Rabu 08 April 2014 aku tepat berusia 21 tahun. Usia yang sudah tidak dikatakan lagi remaja. Usia dimana arah hidupku sudah mulai terlihat hendak kemana. 
Di bertambahnya usia ini aku tak berharap sesuatu yang macam-macam. Aku tak terlalu berharap kejutan dari teman-temanku yang memberikan sebuah kue dengan lilin di atasnya atau foto yang diedit dengan begitu noraknya dan dijadikan DP BBM. Tidak. Aku sudah tak mengharapkan itu semua.
Di usiaku yang baru ini aku hanya berharap pada diriku sendiri. Aku sangat berharap seorang Nia ini bisa konsisten menjaga semangatnya dalam berbagai hal. Semangat dalam ibadah, semangat dalam mencari ilmu, dan juga semangat dalam menebarkan kebaikan. 
Penyakit yang sudah lama dideritaku ya ketidakkonsistenan ini. Entahlah. Sulit sekali untuk terus konsisten. Dan rasanya itu memang manusiawi. Bukan hanya aku saja yang menderita penyakit ini. Dibutuhkan suatu motivasi agar aku bisa kembali semangat dalam menjalani setiap aktifitas. Dan motivasi yang paling ampuh selalu aku dapatkan dari Mamah.


Aku tak tau jika Mamah juga mengucapkan selamat ulang tahun di akun facebookku. Aku menangis terharu membacanya. Oh Allah, betapa bahagianya aku memiliki Mamah seperti beliau. 
Harapanku di ulang tahun kali ini sederhana. Aku hanya berharap pada diriku sendiri agar aku menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi. Lebih baik dalam segalanya. Dalam ibadah, mencari ilmu, membagi waktu, disiplin, dan lain sebagainya. Amin.
Terakhir, aku ucapkan kepada diriku sendiri, selamat ulang tahun Nia.
Selamat datang di usia 21.


Indonesia memiliki potensi wisata yang begitu besar. Saking besarnya bidang ini pun mampu menyumbangkan devisa negara hingga US$ 10 Miliar.[1] Keindahan negeri ini terhampar dari Sabang sampai Merauke. Terdapatnya beraneka ragam suku dengan kebudayaan yang berbeda-beda di dalamnya juga membuat Indonesia semakin istimewa dalam keharmonisannya. Banyak turis asing yang jatuh cinta dengan keindahan Indonesia, bahkan hingga menetap di negeri kepulauan ini.Para turis mengatakan bahwa Indonesia itu menyenangkan karena biaya hidupnya yang murah dan juga karena orang-orangnya yang ramah.
Jika para turis yang berasal dari luar negeri sudah menikmati indahnya Indonesia, maka sebagai penduduk asli Indonesia kita pun seharusnya telah seperti itu. Karena jika bukan kita yang menikmati dan lalu mencintai potensi wisata negeri ini maka siapa lagi. Kebanyakan para turis hanya sekedar menikmati saja tanpa ikut menjaga sebab mereka berpikir itu bukan milik mereka dan memang kita lah pemilik sesungguhnya dari negeri khatulistiwa ini. Sehingga sudah merupakan kewajiban kita untuk senantiasa menjaga, mencintai, dan melestarikan seluruh potensi yang dimiliki Indonesia.
Namun menurut travel blogger, Trinity yang baru saja pulang long trip selama satu tahun, dalam suatu talkshow menyatakan bahwa minat orang Indonesia dalam bepergian atau traveling masih sangat rendah. Ketika dia berkunjung ke beberapa negara di Benua Amerika banyak penduduk disana yang bilang bahwa dia adalah orang Indonesia pertama yang mereka temui. Dalam pengamatan penulis pun memang kegiatan traveling masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Jangankan untuk traveling ke luar negeri, sekedar mengunjungi seluruh wisata yang ada dalam provinsinya saja sangat jarang.
Banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut, diantaranya ekonomi dan sosial budaya. Dalam hal ekonomi jelas terlihat bahwa untuk traveling harus mengeluarkan dana yang lumayan tidak sedikit. Walau begitu jika memang ada minat yang besar pasti semua kendala akan dapat diatasi. Misalnya dengan menabung melalui tabungan khusus setiap bulannya, mencari pekerjaan sampingan, dan menjadi travel blogger. Selain ekonomi ada pula keadaan sosial budaya di sebagian daerah yang kurang mendukung. Seperti adanya stigma dari orang-orang dengan pemikiran konservatif yang menyebutkan lebih baik di kampung halaman saja, di rumah saja. Disisi lain di beberapa daerah, traveling dianggap sebagai kegiatan yang menghambur-hamburkan uang. Traveling dianggap tak ada manfaatnya selain hanya sekedar bermain dan refreshing saja.
Menurut survei, 75 persen orang di atas 35 tahun menyesal tidak sering liburan sewaktu mereka muda. Ini adalah survei yang diadakan oleh perusahaan travel asal Inggris bernama Contiki Holidays. Dalam survei yang ditengok dari Daily Mail, Rabu (14/8/2013), disebutkan 3/4 responden berumur 35 tahun ke atas menyesal tidak terlalu sering liburan waktu muda. Survei tersebut menunjukkan bahwa sesungguhnya traveling adalah hal menyenangkan yang diinginkan oleh kebanyakan orang. Ketika menginjak umur 35 tahun ke atas kebanyakan orang sudah sibuk dengan rutinitas pekerjaan dan tanggung jawabnya dalam keluarga. Sehingga semakin berkurang lah waktu untuk dapat traveling sepuas dan sebebas mungkin.
Sesungguhnya manfaat dari traveling tidak hanya sekedar bermain dan refreshing saja. Dengan traveling pemikiran kita dapat lebih luas lagi karena kita melihat, mendengar, berbicara, dan berjalan lebih banyak. Traveling membuat kita menjadi pribadi yang dapat hidup dalam perbedaan. Bergaul dengan lingkungan yang heterogen merupakan suatu hal yang sudah biasa dalam traveling. Mengenal lebih banyak teman, kebudayaan, dan lingkungan menjadikan seorang traveler lebih toleran dan empati terhadap lingkungannya. Selain itu orang yang hobi traveling sudah jelas akan memiliki fisik yang lebih bugar sebab lebih banyak melakukan aktifitas di luar ruangan sehingga bergerak lebih banyak.
Satu hal yang tak kalah penting dalam traveling adalah pengalaman. Pengalaman merupakan sesuatu yang sangat berharga karena pengalaman mampu mengajarkan kita banyak hal. Dengan pengalaman kita dapat menjadi pribadi yang lebih dewasa dan lebih matang dari sebelumnya. Dengan pengalaman pula lah kita memiliki banyak tabungan cerita yang bisa dibagikan dengan keluarga, teman, juga satu yang tak bisa dilupakan, dengan anak-cucu kita kelak. Traveling sungguh sangatlah menyenangkan. Dengan traveling kita bisa berpetualang untuk menantang kemampuan diri sendiri. Maka ketika ada waktu luang sempatkanlah untuk traveling sebanyak mungkin.
Waktu yang paling pas untuk traveling adalah ketika menjadi mahasiswa. Mahasiswa merupakan golongan yang paling bebas dari beberapa golongan lain seperti anak sekolah dan pekerja. Mahasiswa memiliki waktu yang lebih banyak dari yang lainnya, seperti libur 2 hari dalam sepekan dan libur kuliah yang bisa memakan waktu 1 sampai 3 bulan. Status mahasiswa yang kebanyakan belum menikah dan jauh dari orangtua juga membuat mahasiswa lebih bebas untuk melakukan apapun. Selagi kebebasan itu digunakan untuk suatu hal yang bermanfaat rasanya sah-sah saja. Mahasiswa yang senang traveling pun tentunya akan lebih mandiri karena sudah mampu untuk menentukan destinasi wisata, waktu perjalanan, dan budget sendiri.
Hidup di dunia ini hanya sekali. Sayang jika harus dilewati dengan hal yang itu-itu saja. Masih banyak tempat indah di Indonesia, terlebih di dunia, yang bisa dikunjungi dan masih banyak lagi kebudayaan nan unik yang bisa dieksplorasi. Dinginnya Ranu Kumbolo, birunya pantai Pandawa, ramainya pos ketan di Alun-Alun Batu, dan jingganya senja di Bukit Moko menunggu Anda untuk datang menghampirinya.
Don’t tell me how educated you are, tell me how much you travelled. - Mohamed
Apa jadinya bila suatu kelas terdapat murid tetapi tak ada guru ? Rasanya kekacauan lah yang akan terjadi di kelas itu, bukan suatu proses pembelajaran yang semestinya diharapkan. Begitu pula peristiwa yang terjadi di suatu Sekolah Dasar di Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Kelas yang pada waktu itu seharusnya diisi dengan pelajaran Agama justru diisi dengan kekerasan yang dilakukan sejumlah siswa laki-laki dan seorang siswi perempuan terhadap teman sekelasnya sendiri seorang siswi yang berinisial DNA. Saat kejadian berlangsung sang guru Agama yang seharusnya mengisi kelas malah pergi untuk mengajar di sekolah lain.
Terlepas dari penyebab utama terjadinya kekerasan yang berawal dari bullying, kasus tersebut disorot banyak pihak karena kondisi ketidakberadaannya guru di dalam kelas. Bagaimana bisa seorang guru meninggalkan kewajibannya untuk mengajar begitu saja ? Terlebih kelas yang ditinggalkannya adalah kelas V Sekolah Dasar dan merupakan mata pelajaran Agama. Selain kasus tersebut terdapat pula berbagai berita lain terkait guru yang membuat miris publik. Diantaranya yaitu “Guru Mencabuli Belasan Siswa”, “Guru Tikam Guru di Depan Murid Hingga Tewas”, “Guru Nyambi Jadi Mucikari Dibekuk Saat Antar Pesanan”, dll.[1]
Sosok guru yang merupakan kunci kesuksesan dari proses pendidikan telah diragukan peranan dan eksistensinya. Degradasi moral di kalangan guru tentunya akan membuat kualitas pendidikan di negeri ini ikut mengalami kemerosotan. Karakter guru yang sudah tak layak lagi menjadi panutan murid-muridnya menjadi permasalahan yang kurang mendapatkan perhatian serius dari pemerintah. Murid yang membutuhkan bimbingan dari seorang guru baik di dalam maupun di luar kelas tentunya ingin memiliki seorang guru yang mampu menjadi panutannya. Seorang guru ideal yang cerdas dalam berpikir, lembut dalam bertutur, dan sopan dalam bersikap. Sosok guru idaman seperti itulah yang dirindukan oleh para murid.
Dalam mengajar guru tidak hanya sekedar transfer ilmu saja tetapi juga transfer nilai. Transfer ilmu akan berguna bagi kebutuhan kognitif dan psikomotoriknya dan transfer nilai bagi kebutuhan afektifnya. Karakter murid yang dibentuk ketika pendidikan dasar hingga menengah sangat menentukan masa depannya kelak, apakah nanti dia akan menjadi seorang pekerja keras yang jujur atau pemalas yang egois. Bangsa Indonesia membutuhkan generasi muda yang tangguh yang tentu saja harus merupakan seorang pekerja keras yang jujur. Proses pengajaran dari seorang guru lah yang akan berdampak pada masa depan bangsa ini. Seperti yang diungkapkan Ki Hadjar Dewantara, pendidikan merupakan kunci pembangunan sebuah bangsa. Guru lah yang mempunyai peran penting dalam pelaksanaan pendidikan tersebut dan itu berarti guru pula lah yang akan mencetak generasi pembangun Indonesia ke depannya.
Seorang guru dituntut untuk memiliki empat kompetensi, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial. Apabila keempat kompetensi tersebut sudah terpenuhi maka tidak akan terjadi seorang guru lalai dalam menjalankan amanahnya sebagai pendidik. Namun realita saat ini yang memperlihatkan perubahan pada sosok guru menunjukkan bahwa tidak semua guru memiliki keempat kompetensi tersebut. LPTK atau Lembaga Pendidikan Tenaga Keguruan yang mencetak lulusan guru hendaknya mengadakan evaluasi dalam kurikulum yang diberikan. Jika kurikulum yang diberikan tidak mengalami perubahan dan tidak sesuai dengan perkembangan zaman yang turut mempengaruhi kompetensi guru maka sosok-sosok guru idaman pun akan semakin menjauh.
Selain itu kompetensi mahasiswa calon guru yang akan masuk LPTK pun hendaknya turut diperhatikan. Bukan sesuatu yang sulit rasanya jika diawal penerimaan mahasiswa calon guru pihak kampus mengadakan tes kepribadian terlebih dahulu. Guru bukan lah suatu profesi biasa. Menjadi seorang guru harus memiliki pribadi yang baik yang akan memberikan contoh bagi masyarakat di sekitarnya. Menjadi seorang guru pun tentunya harus sabar dan telaten dalam mengajar, mendidik, membimbing, dan melatih para muridnya. Bila tak ada potensi untuk memiliki kriteria tersebut sebaiknya urungkan saja.
Profesi guru merupakan suatu profesi yang terhormat di mata masyarakat. Karena guru merupakan suatu profesi yang paling tua di dunia. Guru telah menorehkan tapak sejarah yang begitu mendalam bagi kehidupan masyarakat.[2] Sudah saatnya guru kembali mengembalikan citranya agar menjadi sosok yang diteladani di tengah-tengah masyarakat. Memang tak dapat dipungkiri guru pun hanya lah seorang manusia biasa yang tidak akan luput dari kesalahan. Tetapi sebagai seorang manusia yang bertanggungjawab hendaknya siapa pun itu yang berkeinginan menjadi guru menyadari hal tersebut. Menyadari untuk senantiasa menjadi pribadi yang selalu berusaha menebarkan kebaikan di sekitarnya khususnya bagi para murid yang dikasihinya.
Peran berbagai pihak dalam membentuk sosok guru idaman bagi murid pun turut berpengaruh. Orangtua murid tidak boleh melepaskan begitu saja tanggung jawab untuk mendidik anaknya kepada guru. Jalinan komunikasi antara guru dan orangtua murid harus terjaga dengan baik. Guru hanya mampu mengawasi anak didiknya selama di sekolah saja, selebihnya tetap kembali kepada orangtua. Pemerintah sebagai pemegang kebijakan juga turut andil dalam membentuk sosok guru ideal bagi pendidikan di Indonesia. Dengan adanya kerjasama dari berbagai pihak tersebut maka bukan suatu ketidakmungkinan guru akan menjadi sosok yang dirindukan oleh muridnya untuk berbagi ilmu, pengalaman, dan juga kasih sayang. (*Mahasiswa TP FIP Unnes 2012)




[1]Sumber http://www.liputan6.com/tag/guru diakses hari Senin 27 Oktober 2014 pukul 09.00 WIB
[2]Imam Wahyudi, Mengejar Profesionalisme Guru (strategi praktis mewujudkan citra guru professional), (Jakarta: Prestasi Pustakaraya, 2012) hlm. 57.