Merindukan Guru Idaman

by 00.07 1 komentar
Apa jadinya bila suatu kelas terdapat murid tetapi tak ada guru ? Rasanya kekacauan lah yang akan terjadi di kelas itu, bukan suatu proses pembelajaran yang semestinya diharapkan. Begitu pula peristiwa yang terjadi di suatu Sekolah Dasar di Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Kelas yang pada waktu itu seharusnya diisi dengan pelajaran Agama justru diisi dengan kekerasan yang dilakukan sejumlah siswa laki-laki dan seorang siswi perempuan terhadap teman sekelasnya sendiri seorang siswi yang berinisial DNA. Saat kejadian berlangsung sang guru Agama yang seharusnya mengisi kelas malah pergi untuk mengajar di sekolah lain.
Terlepas dari penyebab utama terjadinya kekerasan yang berawal dari bullying, kasus tersebut disorot banyak pihak karena kondisi ketidakberadaannya guru di dalam kelas. Bagaimana bisa seorang guru meninggalkan kewajibannya untuk mengajar begitu saja ? Terlebih kelas yang ditinggalkannya adalah kelas V Sekolah Dasar dan merupakan mata pelajaran Agama. Selain kasus tersebut terdapat pula berbagai berita lain terkait guru yang membuat miris publik. Diantaranya yaitu “Guru Mencabuli Belasan Siswa”, “Guru Tikam Guru di Depan Murid Hingga Tewas”, “Guru Nyambi Jadi Mucikari Dibekuk Saat Antar Pesanan”, dll.[1]
Sosok guru yang merupakan kunci kesuksesan dari proses pendidikan telah diragukan peranan dan eksistensinya. Degradasi moral di kalangan guru tentunya akan membuat kualitas pendidikan di negeri ini ikut mengalami kemerosotan. Karakter guru yang sudah tak layak lagi menjadi panutan murid-muridnya menjadi permasalahan yang kurang mendapatkan perhatian serius dari pemerintah. Murid yang membutuhkan bimbingan dari seorang guru baik di dalam maupun di luar kelas tentunya ingin memiliki seorang guru yang mampu menjadi panutannya. Seorang guru ideal yang cerdas dalam berpikir, lembut dalam bertutur, dan sopan dalam bersikap. Sosok guru idaman seperti itulah yang dirindukan oleh para murid.
Dalam mengajar guru tidak hanya sekedar transfer ilmu saja tetapi juga transfer nilai. Transfer ilmu akan berguna bagi kebutuhan kognitif dan psikomotoriknya dan transfer nilai bagi kebutuhan afektifnya. Karakter murid yang dibentuk ketika pendidikan dasar hingga menengah sangat menentukan masa depannya kelak, apakah nanti dia akan menjadi seorang pekerja keras yang jujur atau pemalas yang egois. Bangsa Indonesia membutuhkan generasi muda yang tangguh yang tentu saja harus merupakan seorang pekerja keras yang jujur. Proses pengajaran dari seorang guru lah yang akan berdampak pada masa depan bangsa ini. Seperti yang diungkapkan Ki Hadjar Dewantara, pendidikan merupakan kunci pembangunan sebuah bangsa. Guru lah yang mempunyai peran penting dalam pelaksanaan pendidikan tersebut dan itu berarti guru pula lah yang akan mencetak generasi pembangun Indonesia ke depannya.
Seorang guru dituntut untuk memiliki empat kompetensi, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial. Apabila keempat kompetensi tersebut sudah terpenuhi maka tidak akan terjadi seorang guru lalai dalam menjalankan amanahnya sebagai pendidik. Namun realita saat ini yang memperlihatkan perubahan pada sosok guru menunjukkan bahwa tidak semua guru memiliki keempat kompetensi tersebut. LPTK atau Lembaga Pendidikan Tenaga Keguruan yang mencetak lulusan guru hendaknya mengadakan evaluasi dalam kurikulum yang diberikan. Jika kurikulum yang diberikan tidak mengalami perubahan dan tidak sesuai dengan perkembangan zaman yang turut mempengaruhi kompetensi guru maka sosok-sosok guru idaman pun akan semakin menjauh.
Selain itu kompetensi mahasiswa calon guru yang akan masuk LPTK pun hendaknya turut diperhatikan. Bukan sesuatu yang sulit rasanya jika diawal penerimaan mahasiswa calon guru pihak kampus mengadakan tes kepribadian terlebih dahulu. Guru bukan lah suatu profesi biasa. Menjadi seorang guru harus memiliki pribadi yang baik yang akan memberikan contoh bagi masyarakat di sekitarnya. Menjadi seorang guru pun tentunya harus sabar dan telaten dalam mengajar, mendidik, membimbing, dan melatih para muridnya. Bila tak ada potensi untuk memiliki kriteria tersebut sebaiknya urungkan saja.
Profesi guru merupakan suatu profesi yang terhormat di mata masyarakat. Karena guru merupakan suatu profesi yang paling tua di dunia. Guru telah menorehkan tapak sejarah yang begitu mendalam bagi kehidupan masyarakat.[2] Sudah saatnya guru kembali mengembalikan citranya agar menjadi sosok yang diteladani di tengah-tengah masyarakat. Memang tak dapat dipungkiri guru pun hanya lah seorang manusia biasa yang tidak akan luput dari kesalahan. Tetapi sebagai seorang manusia yang bertanggungjawab hendaknya siapa pun itu yang berkeinginan menjadi guru menyadari hal tersebut. Menyadari untuk senantiasa menjadi pribadi yang selalu berusaha menebarkan kebaikan di sekitarnya khususnya bagi para murid yang dikasihinya.
Peran berbagai pihak dalam membentuk sosok guru idaman bagi murid pun turut berpengaruh. Orangtua murid tidak boleh melepaskan begitu saja tanggung jawab untuk mendidik anaknya kepada guru. Jalinan komunikasi antara guru dan orangtua murid harus terjaga dengan baik. Guru hanya mampu mengawasi anak didiknya selama di sekolah saja, selebihnya tetap kembali kepada orangtua. Pemerintah sebagai pemegang kebijakan juga turut andil dalam membentuk sosok guru ideal bagi pendidikan di Indonesia. Dengan adanya kerjasama dari berbagai pihak tersebut maka bukan suatu ketidakmungkinan guru akan menjadi sosok yang dirindukan oleh muridnya untuk berbagi ilmu, pengalaman, dan juga kasih sayang. (*Mahasiswa TP FIP Unnes 2012)




[1]Sumber http://www.liputan6.com/tag/guru diakses hari Senin 27 Oktober 2014 pukul 09.00 WIB
[2]Imam Wahyudi, Mengejar Profesionalisme Guru (strategi praktis mewujudkan citra guru professional), (Jakarta: Prestasi Pustakaraya, 2012) hlm. 57.

Nia Faridawati Rustandi

Developer. Author.

Hi, I'm Nia. Muslim. Sundanese Girl. 20 y.o. Love to be traveler. Fan of indie music. Student of Semarang State University.

1 komentar: