Indonesia
memiliki potensi wisata yang begitu besar. Saking besarnya bidang ini pun mampu menyumbangkan devisa negara hingga US$ 10 Miliar.[1] Keindahan
negeri ini terhampar dari Sabang sampai Merauke. Terdapatnya beraneka ragam
suku dengan kebudayaan yang berbeda-beda di dalamnya juga membuat Indonesia
semakin istimewa dalam keharmonisannya. Banyak turis asing yang jatuh cinta
dengan keindahan Indonesia, bahkan hingga menetap di negeri kepulauan ini.Para turis
mengatakan bahwa Indonesia itu menyenangkan karena biaya hidupnya yang murah
dan juga karena orang-orangnya yang ramah.
Jika
para turis yang berasal dari luar negeri sudah menikmati indahnya Indonesia,
maka sebagai penduduk asli Indonesia kita pun seharusnya telah seperti itu.
Karena jika bukan kita yang menikmati dan lalu mencintai potensi wisata negeri
ini maka siapa lagi. Kebanyakan para turis hanya sekedar menikmati saja tanpa
ikut menjaga sebab mereka berpikir itu bukan milik mereka dan memang kita lah
pemilik sesungguhnya dari negeri khatulistiwa ini. Sehingga sudah merupakan
kewajiban kita untuk senantiasa menjaga, mencintai, dan melestarikan seluruh
potensi yang dimiliki Indonesia.
Namun
menurut travel blogger, Trinity yang baru
saja pulang long trip selama satu
tahun, dalam suatu talkshow menyatakan
bahwa minat orang Indonesia dalam bepergian atau traveling masih sangat rendah.
Ketika dia berkunjung ke beberapa negara di Benua Amerika banyak penduduk
disana yang bilang bahwa dia adalah orang Indonesia pertama yang mereka temui. Dalam
pengamatan penulis pun memang kegiatan traveling masyarakat Indonesia masih
sangat rendah. Jangankan untuk traveling ke luar negeri, sekedar mengunjungi
seluruh wisata yang ada dalam provinsinya saja sangat jarang.
Banyak
faktor yang mempengaruhi hal tersebut, diantaranya ekonomi dan sosial budaya.
Dalam hal ekonomi jelas terlihat bahwa untuk traveling harus mengeluarkan dana
yang lumayan tidak sedikit. Walau begitu jika memang ada minat yang besar pasti
semua kendala akan dapat diatasi. Misalnya dengan menabung melalui tabungan
khusus setiap bulannya, mencari pekerjaan sampingan, dan menjadi travel blogger. Selain ekonomi ada pula
keadaan sosial budaya di sebagian daerah yang kurang mendukung. Seperti adanya stigma
dari orang-orang dengan pemikiran konservatif yang menyebutkan lebih baik di
kampung halaman saja, di rumah saja. Disisi lain di beberapa daerah, traveling
dianggap sebagai kegiatan yang menghambur-hamburkan uang. Traveling dianggap tak
ada manfaatnya selain hanya sekedar bermain dan refreshing saja.
Menurut survei, 75 persen orang di atas 35 tahun menyesal tidak
sering liburan sewaktu mereka muda. Ini adalah survei yang diadakan oleh perusahaan travel asal
Inggris bernama Contiki Holidays. Dalam survei yang ditengok dari Daily Mail,
Rabu (14/8/2013), disebutkan 3/4 responden berumur 35 tahun ke atas menyesal
tidak terlalu sering liburan waktu muda. Survei tersebut menunjukkan bahwa
sesungguhnya traveling adalah hal menyenangkan yang diinginkan oleh kebanyakan
orang. Ketika menginjak umur 35 tahun ke atas kebanyakan orang sudah sibuk
dengan rutinitas pekerjaan dan tanggung jawabnya dalam keluarga. Sehingga
semakin berkurang lah waktu untuk dapat traveling sepuas dan sebebas mungkin.
Sesungguhnya
manfaat dari traveling tidak hanya sekedar bermain dan refreshing saja. Dengan traveling pemikiran kita dapat lebih luas
lagi karena kita melihat, mendengar, berbicara, dan berjalan lebih banyak.
Traveling membuat kita menjadi pribadi yang dapat hidup dalam perbedaan.
Bergaul dengan lingkungan yang heterogen merupakan suatu hal yang sudah biasa
dalam traveling. Mengenal lebih banyak teman, kebudayaan, dan lingkungan
menjadikan seorang traveler lebih toleran dan empati terhadap lingkungannya.
Selain itu orang yang hobi traveling sudah jelas akan memiliki fisik yang lebih
bugar sebab lebih banyak melakukan aktifitas di luar ruangan sehingga bergerak
lebih banyak.
Satu
hal yang tak kalah penting dalam traveling adalah pengalaman. Pengalaman merupakan
sesuatu yang sangat berharga karena pengalaman mampu mengajarkan kita banyak
hal. Dengan pengalaman kita dapat menjadi pribadi yang lebih dewasa dan lebih
matang dari sebelumnya. Dengan pengalaman pula lah kita memiliki banyak tabungan
cerita yang bisa dibagikan dengan keluarga, teman, juga satu yang tak bisa
dilupakan, dengan anak-cucu kita kelak. Traveling sungguh sangatlah
menyenangkan. Dengan traveling kita bisa berpetualang untuk menantang kemampuan
diri sendiri. Maka ketika ada waktu luang sempatkanlah untuk traveling sebanyak
mungkin.
Waktu
yang paling pas untuk traveling adalah ketika menjadi mahasiswa. Mahasiswa
merupakan golongan yang paling bebas dari beberapa golongan lain seperti anak
sekolah dan pekerja. Mahasiswa memiliki waktu yang lebih banyak dari yang
lainnya, seperti libur 2 hari dalam sepekan dan libur kuliah yang bisa memakan
waktu 1 sampai 3 bulan. Status mahasiswa yang kebanyakan belum menikah dan jauh
dari orangtua juga membuat mahasiswa lebih bebas untuk melakukan apapun. Selagi
kebebasan itu digunakan untuk suatu hal yang bermanfaat rasanya sah-sah saja.
Mahasiswa yang senang traveling pun tentunya akan lebih mandiri karena sudah
mampu untuk menentukan destinasi wisata, waktu perjalanan, dan budget sendiri.
Hidup
di dunia ini hanya sekali. Sayang jika harus dilewati dengan hal yang itu-itu
saja. Masih banyak tempat indah di Indonesia, terlebih di dunia, yang bisa
dikunjungi dan masih banyak lagi kebudayaan nan unik yang bisa dieksplorasi.
Dinginnya Ranu Kumbolo, birunya pantai Pandawa, ramainya pos ketan di Alun-Alun
Batu, dan jingganya senja di Bukit Moko menunggu Anda untuk datang
menghampirinya.
Don’t tell me how educated you are, tell
me how much you travelled. - Mohamed
[1]Sumber:
http://www.tempo.co/read/news/2014/03/17/090562890/Pariwisata-Sumbang-Devisa-US-10-Miliar
diakses hari Kamis 30 Oktober 2014 pukul 14.48 WIB



0 komentar:
Posting Komentar